Malam
pekat serta hujan yang awet tidak membuat langkahnya terhenti untuk mencari
nafkah. Raut wajahnya tampak letih, namun ia tak menggubrisnya. Pinggir pantai
losari, Dg Sikki' bercerita tentang pekerjaannya yang sering kali dihina oleh
banyak orang.
Lelaki
yang tak lagi muda ini adalah satu dari beberapa pemulung yang ada di pantai
losari. Meski ia sudah tak lagi memiliki fisik yang bugar, namun semangatnya
tak pernah surut dalam memilah botol-botol plastik di setiap tempat sampah
sekitaran pantai losari. Setiap malam Dg Sikki' melangkahkan kakinya menuju
pantai losari untuk melakukan rutinitasnya sebagai pemulung. Biasanya Dg Sikki'
selesai memulung sekitar pukul empat dini hari. Botol-botol plastik yang telah
dikumpulkan kemudian dijual ke pengepul untuk mendapatkan uang sebagai jerih
payahnya. 1 Kg botol plastik dihargai 2 ribu rupiah dan uang yang berhasil
didapat oleh Dg Sikki' dalam semalam sekitar 30 hingga 50 ribu rupiah. Jumlah
tersebut tentunya jauh dari kata cukup untuk Dg Sikki' yang memiliki banyak
anggota keluarga. Dg Sikki" dengan prinsip hebatnya mengatakan,
"memang tidak cukup, namun masih bisa menyambung hidup." Prinsip
hebat Dg Sikki' juga terkuak saat menanggapi banyaknya pemulung di pantai
losari yang jelas menjadi pesaingnya. "Saya tidak menganggap mereka
pesaing, kami di sini hanya sama-sama mencari nafkah dengan rezeki yang sudah
diatur sebelumnya" ujar Dg Sikki'.
Sebagai
penutup perbincangan kami kalam itu, dengan senyumnya yang khas dan tatapan
yang penuh perhatian Dg Sikki' berpesan untuk mahasiswa seperti saya yang tak
lama lagi akan menghadapi dunia kerja.
"Apapun
pekerjaanmu nanti, berapa pun gajimu jangan pernah membuat kamu merasa rendah
maupun merasa tinggi. Hargailah semua jenis pekerjaan. Soal gaji tak perlu
merasa khawatir karena rezeki sudah diatur sebelumnya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar